GMX.COM semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran dan tempat wadah belajar
Gimana sih prestasi IPTEK Indonesia dibandingkan negara lain? Apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk memajukan IPTEK Indonesia?
Kalo diminta untuk membanggakan Indonesia, biasanya lo sebagai warga
negara Indonesia bakal mengangkat poin atau kelebihan apa sih dari
negeri ini?
Pastinya berbagai varian jawaban akan muncul. Tapi gue yakin, salah
satu poin kelebihan yang lumayan sering dibanggakan oleh orang Indonesia
adalah:
“Wah, Indonesia adalah negara yang kaya raya akan sumber daya alam. Banyaknya kekayaan alam yang terkandung di bumi Indonesia ini, mungkin tidak bisa dihitung. Gemah ripah loh jinawi!”
Walaupun orang Indonesia bisa sampe berbusa-busa membanggakan sumber
daya alam negeri ini, di sisi lain, orang Indonesia juga sering insecure dan mengeluh:
-
“Ah, Indonesia nih payah. Kita punya SDA yang berlimpah, tapi masa kalah sama negara tetangga kayak Singapur yang SDA-nya dikit?”
-
“Kenapa sih negara kita ga maju-maju padahal kita punya potensi alam yang luar biasa?"
-
Dsb
Yak, sumber daya alam lagi yang dibawa-bawa. Tapi alih-alih cuma
mengeluh tanpa solusi, pernah ga sih terpikirkan, kenapa Indonesia
dengan sumber daya alam yang berlimpah ini masih tertinggal dengan
banyak negara maju? Sebenarnya seberapa jauh kita tertinggal dari
negara-negara maju tersebut? Apakah terus-terusan mengandalkan sumber
daya alam bisa membuat sebuah negara jadi maju?
Kalo ngomongin negara maju (developed country), sebenarnya
ada banyak sih aspek yang harus kita lihat. Tapi untuk artikel ini, gue
akan fokus ceritain satu aspek saja, yang berdasarkan observasi gue,
Indonesia masih jauh banget ketinggalan dengan banyak negara untuk aspek
ini. Aspek apa itu?
Menurut Lester Thurow, dekan MIT’s Sloan School of Management, akan
terjadi pergeseran kekayaan dari negara-negara dengan pendapatan yang
berasal dari sumber daya alam. Hal ini terjadi karena di masa yang akan
datang, komoditas
(bahan mentah hasil sumber daya alam, seperti padi, karet, kopi, kelapa
sawit, emas, minyak, dll) akan menjadi semakin murah. Dari tahun 1970
sampai 1990 sendiri, harga-harga berbagai sumber daya alam turun sampai
60%. Thurow memprediksi pengurangan harga sebesar 60% tersebut akan
terjadi lagi pada tahun 2020.
Nah, berdasarkan fakta ini, kebayang kan gimana kalo kita
terus-terusan bergantung pada SDA sebagai sumber kemakmuran dan martabat
negara? Jelas lama-kelamaan kita akan terus tertinggal karena harga
barang-barang dari SDA tersebut akan semakin murah yang berimbas pada
pendapatan negara semakin turun.
Terus, kalo kita ga bisa terus-terusan mengandalkan sumber daya alam, kita harus mengandalkan apa dong sebagai sumber kemakmuran dan martabat bangsa?
Lanjut lagi kata Thurow, di abad ke-21, kekuatan otak, imajinasi,
inovasi, pengetahuan, dan teknologi akan menjadi kunci strategis
kemakmuran suatu negara. Dengan kata lain, IPTEK!
Eh, udah cerita panjang lebar, tapi kita belum kenalan nih. Nama gue
Steve Yudea, panggil aja Steve. Gue adalah mantan murid Zenius dan baru
aja join tim Zenius Education selama 3 bulan terakhir sebagai Tutor
Fisika. Gue lulus dari jurusan Fisika ITB.
Nah, pada kesempatan pertama gue mengisi Zenius Blog, gue ingin
berbagi kumpulan pengalaman, bacaan, dan obrolan ketika gue menjadi
Menteri Riset dan Teknologi Kabinet Mahasiswa ITB (2014-2015). Gue
persiapkan artikel ini khusus buat kalian yang sedang menunggu waktu
menyandang gelar mahasiswa. Gue akan membahas gimana keadaan IPTEK
Indonesia saat ini, gimana peran IPTEK dalam memajukan sebuah negara,
dan gimana peran mahasiswa dalam memajukan IPTEK sebuah negara. Gue
punya harapan besar, tulisan ini bisa menjadi bahan renungan, menantang,
sekaligus membakar semangat kalian, hai calon mahasiswa!
Potret IPTEK Indonesia Hari Ini
Sebelum kita ngebahas peran IPTEK, ada baiknya kita cek realita dulu.
Sebenernya kondisi IPTEK Indonesia sekarang tuh lagi gimana sih?
Mungkin selama ini lo cuma merasa dan menduga-duga aja. Biar lebih
jelasnya, kita bisa lihat “prestasi” bangsa ini di bidang IPTEK pada
berbagai penilaian internasional.
1. Anggaran Negara untuk IPTEK
Indonesia memiliki investasi IPTEK nasional sebesar 0,08% dari Gross Domestic Product (GDP), yaitu sekitar 2 miliar USD pada 2013. Ga nyampe 1%, vroh! Boro-boro 1%, angka 0,1% aja ga nyampe xD
Bandingkan dengan Israel yang membelanjakan 4,3% dari anggaran
negaranya (sekitar 12,7 miliar USD). Ini adalah angka persenan belanja
negara untuk riset tertinggi sedunia. Atau bandingkan dengan Amerika
Serikat yang punya dana riset tertinggi sedunia, yaitu sekitar 470
miliar USD pada 2013. Hehehe, angka investasi riset Indonesia ga ada
apa-apanya ya 
Pada tahun 2016 lalu, pemerintah menyatakan bahwa anggaran riset kita
naik menjadi 0,2% dari GDP. Tapi itu ternyata hanya karena perubahan rumus perhitungan.
Selain itu, Indonesia punya 205 peneliti per 1 juta penduduk.
Bandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura punya peneliti 30x
lipat lebih banyak dari Indonesia, yaitu sekitar 6000 peneliti per 1
juta penduduk! Atau bandingkan dengan Israel yang memiliki 8255 peneliti
per 1 juta penduduk! Angka ini adalah yang tertinggi sedunia.
Singkat kata, IPTEK di Indonesia masih belum menjadi hal penting seperti di banyak negara maju.
2. Produktivitas Peneliti Indonesia
Produktivitas IPTEK Indonesia pun selaras dengan sumber daya manusia
yang dimiliki, masih sangat rendah. Di ASEAN aja, kita hanya menduduki
peringkat empat dengan selisih jurnal per tahun yang cukup besar dengan
Singapura, Malaysia, dan Thailand. Padahal penelitian tanpa jurnal
ibarat lulus tanpa ijazah. Kita ga punya bukti tertulis yang menyatakan
kita telah melalui proses pendidikan ataupun penelitian.
| Jumlah Publikasi Saintifik Negara-negara ASEAN | ||||||
| Nama Negara | Tahun | |||||
| 2010 | 2011 | 2012 | 2013 | 2014 | 2015 | |
| Malaysia | 15,322 | 20,034 | 21,771 | 24,093 | 26,990 | 22,357 |
| Singapura | 14,250 | 15,007 | 16,342 | 17,102 | 17,554 | 16,351 |
| Thailand | 9,360 | 10,096 | 11,150 | 11,548 | 12,497 | 10,886 |
| Indonesia | 2,376 | 3,043 | 3,533 | 4,749 | 6,027 | 6,040 |
| Vietnam | 2,057 | 2,269 | 2,992 | 3,491 | 3,758 | 3,855 |
| Phillipina | 1,174 | 1,479 | 1,514 | 1,699 | 1,812 | 1,869 |
| Cambodia | 176 | 189 | 222 | 237 | 269 | 287 |
| Myanmar | 107 | 157 | 111 | 97 | 128 | 164 |
| Brunei Darussalam | 103 | 130 | 199 | 245 | 318 | 341 |
| Laos | 123 | 147 | 191 | 189 | 190 | 204 |
| Timor Leste | 2 | 4 | 13 | 12 | 25 | 19 |
| Sumber data | http://reports.weforum.org/global-competitiveness-index/ |
| http://www.scimagojr.com/countryrank.php |
3. Indeks Kesiapan Teknologi
Salah satu faktor dalam indeks daya saing suatu negara adalah indeks
kesiapan teknologi (WEF, 2013). Indeks ini diperoleh dengan banyak
sekali parameter penilaian, seperti kebijakan suatu negara, besarnya
anggaran negara yang dicurahkan untuk riset & teknologi, dan
sebagainya. Jangkauan dari indeks ini sendiri mulai dari 1-7, di mana 7
menunjukkan kesiapan yang terbaik. Pada tahun 2016-2017, Indonesia mampu
mencapai indeks kesiapan teknologi 3,5. Indeks ini menempatkan negara
kita berada pada peringkat 75 dunia dari 138 negara. Kita juga masih
kalah dari beberapa negara tetangga.
4. Indeks Inovasi
Parameter lain yang menjadi penilaian adalah indeks inovasi. Indeks
inovasi Indonesia pada tahun 2016-2017 mencapai 4. Indeks ini cukup
untuk mendongkrak Indonesia pada peringkat 31 dunia dalam indeks
inovasi.
Tapi perlu diperhatikan, bahwa skor untuk paten (yang menjadi salah
satu komponen penilai di Indeks Inovasi ini) sangat rendah, yaitu 0,1.
Artinya apa? Jadi, Indeks Inovasi Indonesia cukup baik karena banyak
peneliti asing yang meneliti Indonesia. Tapi penelitian yang bagus itu
tidak dilakukan atas dan oleh orang Indonesia. 
Oke, sampe di sini keliatan banget ya kalo kondisi IPTEK Indonesia
sekarang aja masih ketinggalan dengan negara tetangga di Asia Tenggara.
Gimana kalo dibandingin dengan negara-negara di Asia, Eropa dan Amerika
Utara. Tambah keliatan banget ketinggalannya. Hehehe.
Dampak dari IPTEK Indonesia yang Tertinggal
Prestasi yang jauh dari membanggkan di atas tentunya punya dampak.
Kesemua hal tersebut dapat berujung pada kegagalan meningkatkan nilai
tambah produk. Hah apaan tuh?
Sederhananya, nilai tambah produk (value added product) adalah segala upaya improvement (entah itu dari segi pengambilan bahan baku, pengolahan, packaging, dsb) untuk memberikan nilai tambah pada suatu produk sehingga kualitasnya lebih baik, harga naik, dan bisa bersaing dengan kompetitor.
Contohnya nih, komoditas kopi.
Kualitas kopi dari berbagai daerah di Indonesia sempat tergolong rendah
karena dulunya petani memetik buah secara asal-asalan. Trus dijemur
dengan cara yang ga bener, diinjak-injak. Belum lagi pas dijemur, jadi
alas tidur kucing atau bahkan dilewati anjing dan terkontaminasi kotoran
anjing. Pemerintah terus membina dan menyosialisasikan petik merah dan pengolahan biji kopi secara basah. Melalui upaya ini, mutu kopi Indonesia makin baik dan bisa bersaing di pasaran.
Nah, karena perhatian Indonesia pada IPTEK masih rendah, bangsa
Indonesia masih kurang banget menelurkan berbagai ide kreatif untuk
meningkatkan daya saing produknya. Alhasil, masyarakat kita sendiri
lebih banyak menggandrungi produk impor daripada produk lokal. Selain
itu, produk lokal kita banyak kalah saing di pasar global.
Jika berlangsung terus menerus, Indonesia bisa masuk ke dalam middle-income trap.
Middle-income trap sendiri merupakan sebuah teori pertumbuhan ekonomi yang menyatakan sebuah negara yang telah mencapai pendapatan (income) dengan nilai tertentu, terjebak pada angka tersebut. Tidak berkurang namun juga kesulitan untuk menaikkan pendapatan.
Pada tahun 1990, Indonesia masuk ke dalam golongan negara dengan pendapatan menengah ke bawah atau lower-middle income country. Sampai sekarang bahkan kita belum masuk ke dalam golongan negara dengan pendapatan menengah ke atas atau upper-middle income country. Walaupun setiap tahunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kondisi sehat, kita tetap harus sadar bahwa ancaman stuck pada level tertentu tetap ada.
Yang jelas, hal ini menandakan bahwa kita masih belum mampu
bersanding dengan negara maju. Faktanya, dari 101 negara yang pada tahun
1960 tergolong sebagai negara berpendapatan menengah, hanya ada 13
negara yang berhasil lolos dari middle-income trap naik menjadi negara dengan pendapatan tinggi.
Gimana Caranya Sebuah Negara Ga Kejebak ke Middle Income Trap?
Salah satu negara yang berhasil melompati tembok middle-income country menuju high-income country
adalah Jepang! Awalnya Jepang memang memiliki pertumbuhan ekonomi yang
cukup stabil. Semua berubah pada tahun 1945, keikutsertaan Jepang pada
Perang Dunia II memporak-porandakan ekonominya. Mereka tak bisa
mengandalkan sumber daya alam. Peralatan industri yang tersisa setelah
perang cuma sedikit. Mereka harus putar otak untuk dapat menghasilkan
produk dengan cara produksi yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Jepang pun mencoba bangkit. Diawali pada tahun 1960, Jepang mengalami
pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Jepang tahun 1960 punya Hayato
Ikeda yang menyusun rencana “income-doubling plan” untuk
menggandakan pendapatan per kapita dalam 10 tahun. Pemerintahan Ikeda
berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur, komunikasi, dan inovasi
teknologi. Hal ini dilakukan untuk meratakan pertumbuhan kota dan daerah
pelosok.
Jepang membuat sebuah buku berjudul "This is Japan”
untuk mengundang investasi ke dalam negara mereka setelah PD II. Isinya
didominasi oleh iklan dari perusahaan-perusahaan besar Jepang, seperti
Mitsubishi Heavy Industries, Asahi Glass, Mitsubishi Shipping, Toyota,
dan Mitsubishi Electric.
Sumber: eBay
Jepang juga melakukan impor teknologi maju dari negara lain dengan
biaya yang relatif lebih rendah karena pembangunan infrastruktur yang
baik. Ditunjang dengan angkatan kerja yang muda dan terpelajar, Jepang
mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat.
Perubahan ini membuat konsentrasi Jepang tertuju pada produk high-tech
dan berkualitas tinggi. Sampai pada 1973 Jepang mengalami pertumbuhan
ekonomi mencapai 9,2%. Era ini sering juga disebut sebagai “Golden
Sixties”. Pendapatan negara menjadi dua kali lipat dalam 6 tahun dan
rata- rata pendapatan per kapita meningkat dua kali lipat dalam 7 tahun.
Gokil nggak tuh. Dengan menerapkan rencana tersebut, Jepang sudah
bisa menjelma menjadi salah satu negara maju yang teknologinya nggak
bisa diremehkan. Padahal sempat rontok gegara perang dan bom atom.
Contoh negara lain yang berhasil lolos dari middle income trap
adalah Korea Selatan. Lihat saja, salah satu sumber martabat bangsa
mereka sekarang berasal dari perusahaan teknologi raksasa, seperti
Samsung dan LG. Begitu pula dengan Singapura yang, well, inovasi teknologinya ga diragukan lagi.
Nah, dari ketiga contoh ini, kita jadi tau:
Untuk dapat melompati batas di antara negara berpendapatan menengah dan tinggi tersebut, kita membutuhkan produktivitas dan daya saing teknologi yang lebih baik
Negara maju menghasilkan produk yang merupakan hasil inovasi dan teknologi.
Salah satu hal yang menjadi fondasi kuat lahirnya berbagai inovasi
dan teknologi di negara maju adalah integrasi yang erat antara
universitas, lembaga riset, dan industri. Universitas merupakan wadah
bagi mahasiswa untuk mendobrak batas-batas ilmu yang dibimbing oleh
profesor. Universitas kemudian menghasilkan sumber daya manusia yang
terlatih berpikir saintifik. SDM ini kemudian terserap dan berkarya yang
sebenarnya di lembaga riset. Di sinilah segala eksplorasi ilmu
diterapkan dalam bentuk produk atau teknologi untuk menghasilkan
teknologi tepat guna. Teknologi tepat guna itu kemudian diestafetkan ke
industri agar bisa diproduksi massal dan digunakan oleh masyarakat luas.
Tanpa adanya integrasi yang baik, hasil penelitian hanya akan sia-sia
menumpuk di gudang, tanpa ada follow up menjadi produk yang benar-benar bisa dipakai.
Dengan adanya integrasi yang kuat antara ketiganya, peran mahasiswa
di negara maju sangatlah besar. Mahasiswa di negara maju kuliah bukan
sekedar untuk jadi sarjana dan bekerja. Mahasiswa adalah motor inovasi
di negara maju.
Trus gimana dengan keadaan mahasiswa Indonesia untuk IPTEK sekarang?
Sudah bisa ditebak, pratik pengembangan IPTEK di Indonesia masih jauh
berbeda dengan negara maju. Kecenderungan industri dalam negeri sendiri
adalah untuk mengadopsi teknologi dari luar negeri, tanpa memperhatikan
kualitas teknologi yang dihasilkan anak bangsa. Di negara kita, sains
dan profesi yang berkaitan seperti tidak ada harganya. Apalagi dengan
hasil penemuan orang Indonesia. Ini dikarenakan belum ada jalur hubungan
yang jelas antara universitas, lembaga riset, dan industri di
Indonesia. Mahasiswa sebagai motor utama penelitian dari lembaga
pendidikan belum terhubung dengan baik dengan industri nasional. Motor
inovasi negara ini belum bekerja sebagaimana seharusnya.
Karena belum ada wadah eksplorasi yang jelas untuk mahasiswa di bidang IPTEK, ini berdampak pada minat dan mindset mahasiswa Indonesia kini. Ada data menarik nih dari kuesioner yang menanyakan interest dan fokus dunia kemahasiswaan para mahasiswa ITB (2014). Ada yang bisa nebak ga hasilnya gimana? Jadi ternyata, urutan interest mahasiswa ITB adalah sebagai berikut:
- Kaderisasi (kepanitiaan OSPEK)
- Isu sosial-politik negara
- Pengabdian Masyarakat & Advokasi
- IPTEK
Miris ga sih?! Gimana bisa kampus Teknologi terfavorit se-Indonesia
malah punya ketertarikan yang rendah terhadap masalah IPTEK? ITB broo! Kampus ITB yang terkenal isinya orang-orang pintar, tapi malah lebih seneng ngurusin OSPEK daripada riset! Kebayang ga sih, isi kampus teknologi nomor 1 di Indonesia aja kayak gitu, gimana kampus-kampus teknologi lain di Indonesia?!
Menurut gue pribadi, generasi muda Indonesia kini masih “meremehkan
IPTEK”. Contohnya, teknologi internet. Untuk orang Indonesia, internet
hanyalah sebatas alat untuk update media sosial dan foto2 saja. Berapa
banyak remaja tanggung Indonesia yang update status: “Susah pisan ini ujian” ato “Duuch,, Besyok udjian tapi catetannya kosong nih”. Kenapa coba ga ubek-ubek internet buat cari sumber belajar lain yang lebih berkualitas, entah itu di Youtube atau di zenius.net 
Kita selalu mengatakan orang Indonesia tidak mampu. Padahal banyak
lembaga penelitian asing yang mau melakukan apa saja agar ilmuwan
Indonesia tidak meninggalkan mereka. Sekarang mari kita tes pengetahuan
kita tentang produk IPTEK Indonesia. Apakah lo familiar dengan kereta
Maglev (Magnetic Levitation)? Atau pepaya California? Film Ipin dan
Upin? Kalau teknologi 4G?
Kita mampu, mampu sekali!
Jadi, apa yang bisa dilakukan sebagai mahasiswa Indonesia?
“Okay, Steve. Sekarang gue ngerti, Indonesia ga bisa terus-terusan ngandelin SDA kalo mau maju. Kita harus memajukan IPTEK. Dan gue sekarang juga ngerti potensi mahasiswa untuk memajukan IPTEK negara ini. Tapi gimana caranya?”
Hai para calon mahasiswa, kalian bisa berkontribusi terhadap dunia
sains dan perkembangan IPTEK Indonesia! Apa saja yang bisa kita lakukan
untuk berkontribusi?
1. Belajar dengan semangat dan passion
Dengan belajar sesuai passion, mindset belajar kita pun akan bertransformasi. Mindset-nya bukan lagi sekadar "bekerja", tapi berkarya! Banyak sekali mahasiswa kuliah masih dengan mindset "bekerja"
bukan berkarya, di mana pada akhirnya mereka akan menghabiskan waktu
lebih dari separuh hidup mereka, “bekerja”. Mengerjakan sesuatu sebatas
selesai tanpa memikirkan seperti apa dampak hal yang telah dikerjakannya
pada orang lain.
Ada dua orang pekerja bangunan yang sedang membangun sekolah. Kedua pekerja tersebut diberikan sebuah pertanyaan yang sama: "Kamu sedang membangun apa?"
A: "Saya sedang menumpuk bata menyusun sebuah bangunan."
B: "Saya sedang membangun sebuah sekolah dimana nantinya akan ada anak-anak yang akan belajar di dalamnya."
B: "Saya sedang membangun sebuah sekolah dimana nantinya akan ada anak-anak yang akan belajar di dalamnya."
Semangat si A adalah untuk menyelesaikan sebuah gedung. Output
dari bekerja adalah selesai, yang penting jadi. Semangat si B adalah
untuk membangun sebuah sekolah yang akan digunakan untuk anak-anak
belajar. Ia akan menumpuk bata sebaik mungkin sehingga menjadi ruang
yang nyaman untuk anak-anak belajar. Output dari berkarya
adalah memberi dampak. Inilah bedanya bekerja dan berkarya. Fokus
"bekerja" adalah diri sendiri, fokus berkarya adalah kemaslahatan orang
banyak.
2. Eksplorasi Ilmu
Kemudian, ketika menjadi mahasiswa, manfaatkanlah masa kuliah lo
sebaik-baiknya menantang setiap ilmu-ilmu yang telah kita pelajari ke
dalam aplikasi nyata atau dengan kata lain melakukan riset. Usia
mahasiswa merupakan umur ketika manusia sedang berada pada tahap paling
kreatif. Maka banyak penemuan baru serta teori-teori yang dianggap gila
lahir dari orang-orang dengan rentang usia mahasiswa seperti kita ini.
Sebut saja Isaac Newton. Di usianya yang baru 21, Newton menggoncang
dunia dengan tiga penemuan paling penting yang tanpanya peradaban kita
takkan maju. Tiga penemuan itu merupakan kalkulus, hukum gravitasi umum
dan spektrum cahaya putih. Di dunia modern, ada Facebook, Reddit, dan
Snapchat yang lahir dari inovasi para mahasiswa dari kamar asrama
mahasiswa. Sebuah kesalahan besar jika kita meremehkan potensi mahasiswa
dalam bidang IPTEK.
Kreativitas di usia muda ini merupakan senjata yang tidak dimiliki
ilmuwan senior. Di usia yang sudah lebih tua, kebanyakan manusia menjadi
semakin pesimis dan satir, konservatif. Inilah yang menjadi jangkar
tersendiri bagi perahu imajinasi ilmuwan senior. Maka di sinilah
seharusnya mahasiswa memaksimalkan bisa potensi. Sebelum perahu
imajinasi tersebut semakin sulit bergerak.
Salah satu contohnya adalah kisah hidup Albert Einstein. Seperti yang
kita tahu, relativitas bisa disebut sebagai ‘holy grail’ dunia fisika.
Relativitas lahir dari imajinasi luar biasa seorang Einstein. Tapi
Einstein di usia yang memasuki umur 48 tahun pada konferensi Solvay
1927, menentang dengan keras ide dasar fisika kuantum. Bahkan ia
berdebat siang dan malam dengan Niels Bohr. Ada sesuatu tentang
imajinasinya yang menolak keberadaan fisika kuantum. Beliau menolak
unsur probabilitas dalam mekanika kuantum. Sedangkan usahanya untuk
menemukan ‘theory of everything’ juga menemui kegagalan. Setelah itu
Einstein tak lagi produktif dalam dunia fisika. Keyakinan Einstein yang
menolak keberadaan Fisika Kuantum dan ketidakberdayaannya membantah
Niels Bohr, bertahan sampai akhir hayatnya.
3. Optimis di Tengah Perjuangan
Sesudah kita paham tentang urgensi dan apa yang bisa kita lakukan,
kita juga perlu tahu bahwa berbicara tentang IPTEK di Indonesia sulit
sekali untuk melepaskan diri dari jerat Political Will. Di negara ini, sapi dan tongkat golf pun dipolitisasi. Mau kemampuan IPTEK kita secanggih apapun, tanpa political will yang tepat dan dalam porsi yang tepat semua hanya mimpi. Sama seperti keinginan kita untuk merdeka dan mandiri.
Indonesia terus berlari dari tangan-tangan biadab yang ingin mencuri.
Mencuri kekayaan alam dari Indonesia. Pada akhirnya sampailah kita pada
sebuah ujung dari itu semua. Barangkali juga ujung bagi bangsa ini.
Dinding-dinding peradaban menahan laju kita. Menatap dengan tawa dan
hinaan yang menyakitkan. Dengan kesal kita menghantamnya, namun momentum
merusak kepalan tangan kita. Kita tau kita tak bisa melawannya, karena
kita lemah. Kita tak bisa melawan, karena tak pernah melatih diri untuk
menghancurkan tembok-tembok tersebut. Tangan-tangan biadab itupun
menjadi kian dekat. Tidak ada yang menjanjikan tanah penuh madu dibalik
tembok peradaban. Tapi lebih baik berlari melewati tembok tersebut
sebagai satu bangsa yang merdeka, ketimbang melewatinya diseret-seret
oleh tangan-tangan tersebut. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk
memilih. Apa anda, saya, kita akan menyerah? Justru karena kita tahu
kita lemah, sekarang kita punya alasan untuk menjadi kuat.
Seperti yang pernah dikatakan Eisenhower, “Pesimisme tidak pernah memenangkan perang”.
Perang kita sekarang adalah terhadap kebodohan dan penjajahan
intelektual. Agar kelak anak-anak bangsa mampu bersaing di pasar global.
Kita tidak boleh pesimis. Mulai dari kampus, menuju Indonesia. Mari
kita tulis sejarah Indonesia yang baru. Semoga kelak sejarah yang baru
itu tak lagi berbicara tentang kemiskinan dan sengsara namun kemerdekaan
dan kesejahteraan. Di suatu hari di masa depan.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar